Jumat, 06 April 2012

Adab dlm bergaul sesama manusia



ADAB DALAM BERGAUL
  • Apa itu adab?
  • Mengapa kita harus memiliki adab?
Ø      Manusia adalah makhluk yang paling sempurna karena akal budinya
Ø      Orang yang beriman adalah kelompok yang paling baik akhlaknya
Ø      Mejadikan sesuatu lebih bernilai
  • Pentingnya adab bergaul.
  • Bagaimana al-Qur’an berbicara tentang adab dalam bergaul?
Ø      Saling mengenal (ta’aruf)
(QS. Al-Hujurat:  )
Ø      Saling memberi hormat (al-tahiyyah)
(QS. Al-Nisa’: )
Ø      Saling menolong (ta’awun)
(QS. Al-Maidah: )
Ø      Tidak saling mengolok-ngolok
(QS. Al-Hujurat: )
Ø      Tidak saling mencela
(QS. Al-Hujurat: )
Ø      Tidak saling memanggil dengan panggilan buruk
(QS. Al-Hujurat: )
Ø      Tidak berburuk sangka
(QS. Al-Hujurat: )
Ø      Tidak berbuat ghibah
(QS. al-Hujurat: )
  • Bagaimana menyiasati pergaulan di masa kini?
  • Penutup

             
Apa itu adab?
Dari segi asal kata (etimologi), istilah adab merupakan kata serapan dari bahasa arab, adab (ادب) yang berarti sopan santun, budi pekerti atau tata cara. (Hans Wern, 1996 : 9). Setelah menjadi salah satu koso kata (perbendaraan kata) dalam bahasa Indonesia, kata adab dipakai dengan beberapa pengertian yang tidak jauh dari bahasa aslinya, seperti kesopanan, kehalusan, kebaikan, budi pekerti atau akhlak. (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dengan demikian, yang dimaksud adab adalah segala bentuk sikap, prilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kehalusan, kebaikan, budi pekerti atau akhlak.
            Gambaran orang yang beradab pada dasarnya adalah orang yang selalu menjalani hidupnya dengan aturan atau tata cara. Tidak ada bagian dari aktivitas kehidupannya terlepas dari tata cara (adab) yang diikutinya. Karena aktivitas hidup manusia bermacam-macam dan masing-masing membutuhkan tata cara, maka muncul pula berbagai macam adab. Secara garis besar berbagai macam adab itu  dibedakan menjadi dua, yaitu adab yang bersifat pribadi dan adab yang bersifat sosial. Adab yang bersifat pribadi terkait dengan segala tata cara/ prilaku yang menyangkut diri kita sendiri, semisal adab makan, adab memakai pakaian atau adab akan tidur. Sedangkan adab yang bersifat sosial terkait dengan prilaku kita dengan orang lain, seperti adab memberi sedekah, adab menjenguk orang sakit atau adab bergaul.
Mengapa kita harus beragul?
            Bergaul mengandung arti bercampur, yaitu mengandaikan hubungan seseorang dengan orang lain. Bergaul adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul dengan orang lain menjadi satu kubutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap manusia yang ‘masih hidup’ di dunia ini. Al-Qur’an menjelaskan secara gamblang alasan yang mengharuskan manusia harus bergaul dengan yang lainnya..
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾
Artinya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

            Sabab Nuzul
            Menurut Abu Daud, ayat ini turun berkenaan dengan Abu Hind yang pekerjaan sehari-harinya sebagai pembekam. Nabi meminta kepada Bani Bayadhah agar menikahkan salah satu putri mereka dengan Abu Hind, tetapi mereka enggan melakukannya. Mereka beralasan, Abu Hind adalah bekas budak mereka. Sikap keliru ini yang kemudiaan dikecam al-Qur’an dengan menegaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan dari garis keturunan atau kebangsawanan, tetapi karena ketakwaan.
            Versi lain menyebutkan, ayat ini turun ketika Usaid Ibn Abi al-Ish berkomentar mendengar Bilal mengumandangkan azan di Ka’bah dengan nada mengejek: Alhamdulillah, Ayahku wafat sebelum melihat kejadiaan ini”. Ada lagi yang berkomentar: “Apakah Muhammad tidak menemukan selaian burung gagak ini untuk beradzan?”

            Ayat di atas menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan perbedaan jenis kelamin, suku dan bangsa. Perbedaan ini tidak harus menimbulkan perpecahan, melainkan dorongan untuk saling mengenal. Al-Qur’an menggunakan kalimat li ta’rafu (لتعارفوا). Kata kerja dari kalimat ini terambil dari kata ‘arafa (عرف)
yang berarti mengenal. Patron (pola) kata yang dipakai ayat ini mengandung makna timbal balik, dengan demikian berarti saling mengenal.        
            Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan  menjadi satu paket ketika Allah menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi, tak ada yang dapat membedakan kecuali ketakwaannya. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita tumbuhkembangkan agar pergaulan kita dengan sesama muslim menjadi sesuatu yang indah sehingga mewujudkan ukhuwah islamiyah. Tiga kunci untuk mewujudkannya yaitu ta’aruf, tafahum, dan ta’awun. Inilah tiga kunci utama yang harus kita lakukan dalam  pergaulan.


Adapun istilah gaul atau bergaul mengandung arti bercampur, yaitu mengandaikan hubungan seseorang dengan orang lain. Sehingga yang dimaksud dengan adab bergaul adalah tata cara tingkah laku manusia dalam berhubungan atau bersosialisasi dengan orang lain. Dan yang perlu diinggat, penerapan dua kata itu dalam kehidupan kita sehari-hari haruslah saling terkait dan beriringan satu sama lainnya. Bergaul tanpa adab ibarat kendaraan yang sedang melaju di jalan raya, tetapi tidak memperdulikan rambu-rambu lalu lintas yang ada.


Gambaran seseorang yang memiliki adab bergaul misalnya, dalam berbicara selalu menggunakan tutur kata yang baik dan santun, menghindari ucapan yang dapat melukai hati, dan menjauhi pembicaraan yang menimbulkan fitnah. Saat bertemu dengan teman atau saudaranya, ia juga tidak enggan untuk menyapa dan menyampaikan salam. Begitu pula ketika ada orang yang sangat membutuhkan, ia tidak akan berat hati untuk membantu dan mengulurkan tangannya.
Dalam tingkatan yang lebih luas, kita sering juga mendengar istilah ‘bangsa yang beradab’ atau ‘masyarakat yang beradab’, maka yang dimaksud adalah bangsa yang masyarakatnya memiliki sikap, prilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai-nilai sopan santun, kebaikan, kehalusan maupun budi pekerti. Dalam masyarakat seperti ini akan terbangun sikap saling menghargai, menghormati dan tolong-menolong antar sesama. Yang kaya bersedia membantu yang miskin, dan sebaliknya yang miskin mampu menghargai yang kaya. Yang muda menaruh hormat kepada yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Kondisi semacam ini lah yang membuat sebuah masyarakat atau bangsa menjadi aman, damai dan tentram.
    
            Mengapa kita harus memiliki adab?
            Al-Qur’an adalah kitab pedoman hidup bagi umat manusia. Di dalamnya berisikan berbagai aturan atau petunjuk. Salah satu diantaranya adalah petunjuk tentang adab (tata cara) dalam bergaul dengan orang lain.
           
            Manusia adalah makhluk yang paling sempurna karena akal budinya
            Sebagaimana ditegaskan al-Qur’an, manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsan al-taqwim). Manusia dikarunia Allah memberikan kepada manusia karunia lebih yang membedakannya dari makhluk lainnya. Manusia dibekali akal yang membuatnya mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, sehingga dapat menerima petunjuk kebenaran agama. Begitu pula dengan hati, manusia memiliki rasa kasih sayang, empati dan simpati, sehingga mampu mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan, membantu saudaranya yang sedang dihimpit kesulitan, menghormati dan menghargai jerih payah orang yang bekerja. Tanpa akal dan hati sudah bisa dipastikan derajat manusia tidak ubahnya seperti binatang, makhluk yang tidak memiliki kepekaan terhadap adab sopan santun. Al-Qur’an menggambarkan secara jelas dan lugas sosok manusia yang tidak memfungsikan potensi kemanusiannya tidak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih buruk lagi. Dan manusia yang demikianlah yang akan menjadi penghuni neraka bersama makhluk lain yang inkar kepada Allah SWT.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ﴿١٧٩﴾
Artinya :

            Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahka lebih buruk lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-‘Araaf: 179)





Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya
Di antara manusia yang hidup di muka bumi dengan beraneka ragam latar belakang suku bangsa, adat kebiasaan serta agama dan kepercayaannya, orang yang beriman lah yang ditasbihkan sebagai orang yang paling baik akhlaknya. Seperti apa yang telah diungkapan oleh Nabi SAW dalam salah sabdanya.
أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Ahmad, al-Hakim dll)
Pernyataan Nabi ini tentu sangat beralasan. Orang mukmin adalah orang yang percaya dan membenarkan sepenuh hati akan keberadaan dan kekuasaan Allah (tasdiq bi al-qalb),  mampu mengungkapkan lewat ucapannya (al-taqrir bi al-lisan) dan membuktikannya dalam tindak perbuatan (al-tathbiq bi al-arkan). Keyakinan yang  penuh inilah yang membuat seorang mukmin tunduk dan patuh atas semua perintah dan petunjuk-Nya.
Kepatuhan orang mukmin kepada Allah SWT mengharuskannya untuk patuh kepada Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.
Menjadikan orang beriman terdepan dalam akhlak dan budi pekerti, tidak lepas dari figur Nabi Muhammad sebagai teladan terbaik (uswah hasanah). Kehadirannya sebagai utusan Allah di muka bumi adalah dengan membawa misi peradaban, yaitu memperbaiki dan menyempurnakan adab moralitas manusia yang sedang mengalami krisis dan dekadensi. Misi ini disampaikan langsung dalam sebuah hadisnya.
   اِنَّماَ بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكاَرِمَ اْلأَخْلاَقِ
                        Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Misi kerasulanan tersebut akan nampak jelas relevansinya bila kita menilik sejarah peradaban Islam awal. Saat turunnya al-Qur’an bersamaan dengan misi kerasulan Nabi, masyarakat Arab diidentifikasi sebagai masyarakat jahiliyah. Disebut jahiliyah bukan berarti bahwa orang-orang Arab itu bodoh, akan tetapi yang dimaksud kejahiliyahan masyarakat Arab adalah ketidaktahuan dan ketidakpedulian mereka terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Bisa dibayangkan, setiap ada bayi perempuan yang lahir, maka tidak segan-segan orang Arab membunuh dan menguburnya hidup-hidup. Karena sudah menjadi tradisi saat itu, kelahiran anak perempuan dianggap hanya akan membawa sial. Kahadirannya di muka bumi bukan membuat hati gembira, melainkan menjadikan muka sang orang tua geram padam. Keberadaannya tidak akan membawa berkah apa-apa, kecuali cercaan dan hinaan dari orang-orang sekitar. Persepsi terhadap anak perempuan sedemikian rendahnya di mata orang-orang Arab kala itu karena kaum hawa dianggap tidak mampu berperan dalam medan pertempuran untuk membela kehormatan suku dan harga diri keluarga. Al-Qur’an merekam dengan baik tindakan yang tidak beradab ini.
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدّاً وَهُوَ كَظِيمٌ ﴿٥٨﴾
يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاء مَا يَحْكُمُونَ ﴿٥٩﴾

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS. al-Nahl: 58-59)

            Menjadikan sesuatu lebih bernilai
            Tatkala para sahabat menanyakan kepada Rasul tentang jalan apa yang harus ditempuh agar manusia dapat mencapai kebahagiaan, dan mengapa kebahagiaan itu tak kunjung datang meskipun di sana sini harta benda telah bertumpuk-tumpuk, bahkan setiap orang yang berhak sudah mendapat bagiaannya yang layak dan pantas, maka Rasul pun menjawab, “Kalian tidak akan dapat membahagiakan orang banyak dengan harta benda dan kedudukan, melainkan dengan akhlak lah kalian akan dapat mendatangkan kebahagiaan kepada mereka.”
Jawaban Nabi di atas menggambarkan bahwa kedudukan tinggi dan kekayaan yang melimpah tidak akan membawa fungsi sosial yang berarti bagi seseorang selama tidak diimbangi dengan adab atau akhlak yang baik kepada sesama. Tidak heran kalau orang tua dulu selalu berpesan,”Hidangkanlah makanan yang hanya rebusan dan cabe yang bergiling saja, itu sudah akan menjadikan sedap dan lezat bila Engkau sajikan dengan cara yang beradab, dibanding makanan dengan lauk pauk yang beraneka ragam namun dihidangkan oleh orang yang tidak tahu adab.”  
Gambaran di atas menunjukkan bahwa nilai sesuatu tidak cukup dipandang dari sisi kuantitas (banyak-sedikit) dan kualitasnya (baik-buruk), melainkan harus dilihat pula dari bagaimana cara memperlakukannya. Orang yang berilmu tetapi tak beradab tentu tidak bisa dianggap lebih baik dari pada orang yang tak berilmu tetapi beradab.
Bagi orang beriman, sebuah perbuatan yang dibalut dengan adab atau akhlak yang baik, tidak hanya bernilai di mata orang lain selama di dunia, melainkan juga akan akan bertambah nilainya dalam pandangan Allah kelak di akhirat. Janji Allah ini terungkap dalam sebuah pernyataan hadis Nabi.
مَا مِنْ شَئٍْ اَثْقَلَ فِيْ مِيْزاَنِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِياَمَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ (رواه الترميذي)
Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur (HR. Al-Tirmidzi)

Penjelasan di atas cukup memperlihatkan bagaimana pentingnya adab atau akhlak bagi umat manusia, terlebih lagi bagi kaum beriman yang telah dijadikan Allah SWT sebagai teladan bagi umat manusia yang lain. Adab atau akhlak yang dimiliki orang yang beriman tidak hanya berdampak kepada lingkungan mereka sendiri, akan tetapi juga berdampak pada citra agama Islam di mata umat lain. Sebagaimana yang terjadi pada diri Nabi yang dinobatkan oleh seorang penulis orientalis sebagai tokoh legendaris yang paling berpengaruh di muka bumi ini, melebihi tokoh-tokoh dunia yang lain (termasuk Nabi atau Rasul yang lain) bukan hanya karena status kenabiannya ataupun kerasulannya, melainkan karena ketinggian akhlak dan kemuliaan budi pekertinya. Tidak hanya umat Islam sendiri yang meneladaninya, akan tetapi umat lainpun banyak yang menaruh empati dan simpati hingga menjadikannya sebagai teladan hidup sepanjang  masa.
Rancangan
ADAB DALAM BERGAUL
  • Apa itu adab?
  • Mengapa kita harus memiliki adab?
Ø      Manusia adalah makhluk yang paling sempurna karena akal budinya
Ø      Orang yang beriman adalah kelompok yang paling baik akhlaknya
Ø      Mejadikan sesuatu lebih bernilai
  • Al-Qur’an adalah cermin adab orang mukmin
  • Bagaimana al-Qur’an berbicara tentang adab dalam bergaul?
Ø      Saling mengenal (ta’aruf)
(QS. Al-Hujurat:  )
Ø      Saling memberi hormat (al-tahiyyah)
(QS. Al-Nisa’: )
Ø      Saling menolong (ta’awun)
(QS. Al-Maidah: )
Ø      Tidak saling mengolok-ngolok
(QS. Al-Hujurat: )
Ø      Tidak saling mencela
(QS. Al-Hujurat: )
Ø      Tidak saling memanggil dengan panggilan buruk
(QS. Al-Hujurat: )
Ø      Tidak berburuk sangka
(QS. Al-Hujurat: )
Ø      Tidak berbuat ghibah
(QS. al-Hujurat: )
  • Bagaimana menyiasati pergaulan di masa kini?
  • Penutup









“(Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup) karena takut tercela mempunyai anak perempuan dan takut jatuh miskin (ditanya) untuk menjelek-jelekkan pelakunya.” (QS. Al-Takwir: 8).

telah banyak mengajarkan banyak hal tentang kehidupan manusia. Jatuh bangunnya sebuah peradapan selalu terkait dengan kisah kehidupan manusianya. Cerita sejarah kejayaan Islam cukuplah menjadi contoh yang nyata. Di masa keemasan, kekuasaan umat Islam hampir meliputi seluruh bagian belahan dunia.

            Bagaimana al-Qur’an berbicara tentang adab bergaul?
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا لاَ يَسْخَرْ قَومٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوْا خَيْراً مِِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿١١﴾

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Al-Quran turun dengan membawa sebuah misi. Kehadirannya adalah sebagai petunjuk (huda) bagi segenap manusia untuk menyelamatkan kehidupan mereka dari kesesatan dan kehancuran. Seperti dilukiskan oleh para sejahrawan, turunnya al-Qur’an pada saat bangsa Arab berada dalam kondisi yang teramat memprihatinkan.   
Manusia terlahir dalam sebuah kebersamaan. Kelahiran seorang bayi karena jalinan kebersamaan antara suami istri.   
Sudah menjadi kebutuhan dasar manusia keinginan untuk hidup bersama. Karena kebutuhan ini pula, manusia dituntut untuk saling mengenal. Bagaimana mungkin orang bisa hidup bersama kalau tidak saling mengenal. Pepatah populer, tidak kenal maka tidak sayang, cukup membuktikan kenyataan ini.
Tak ada seorang pun yang akan bisa hidup sendiri. Karena itulah, sering kali manusia disebut sebagai makhluk sosial, mengingat tidak bisa Mulai dari lingkup yang paling kecil, kebutuhan untuk hidup bersama sangat terasa. 

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya”.


الَدِّّيْنُ اَلْمُعاَمَلَةُ
 Agama dalah interaksi yang baik.
مَا مِنْ شَئٍْ اَثْقَلَ فِيْ مِيْزاَنِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِياَمَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ (رواه الترميذي)
Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur (HR. Al-Tirmidzi
أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً
“Kaum mukminin yang paling sempurna imannya, adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad, Al Hakim dll)

Jumat, 23 Maret 2012

Hukum mengerakkan jari telunjuk dlm sholat



Hukum Menggerak-gerakkan Jari dalam Shalat

Berikut ini diketengahkan ulasan lain tentang menggerakkan telunjuk pada saat tahiyat, seperti yang pernah dibahas sebelumnya. (redaksi)

Jika kita perhatikan, saat duduk tasyahhud dalam shalat memang tidak semua orang menggerakkan jari telunjuk dengan cara yang sama. Ini semata-mata karena perbedaan ulama dalam memahami hadits. Perbedaan ini terjadi sejak zaman tabi’in dan ulama mazhab. Perbedaan ini tidak menyebabkan tidak sahnya shalat dan tidak pula menyebabkan kesesatan, karena perbedaannya dalam hal furu’iyah yang masing-masing mempunyai dalil hadits Rasulullah SAW.

Adapun hadits yang dipahami berbeda-beda oleh ulama adalah hadits Rasulullah saw.:
عن ابن عمر رضي الله عنهما: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم اِذَاَ قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ اليُسْرَى عَلىَ رُكْبَتِهِ وَاليُمْنَى عَلىَ اليُمْنىَ, وَعَقَدَ ثَلاَثاً وَخَمْسِيْنَ وَأَشَارَ بِإِصْبِعِهِ السَّباَبَةِ --رواه مسلم

Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW jika duduk untuk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan membentuk angka “lima puluh tiga”, dan memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuknya” (HR Muslim).

Yang dimaksud dengan “membentuk angka lima puluh tiga” ialah suatu isyarah dari cara menggenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah disebut angka tiga, dan menjadikan ibu jari berada di atas jari tengah dan di bawah jari telunjuk.

Adapun penyebab terjadinya perbedaan ulama tentang cara isyarah dengan jari telunjuk saat tasyahhud apakah digerakkan atau diam saja dan kapan waktunya adalah karena ada hadits yang sama denga di atas dengan tambahan teks (matan) dari riwayat lain, yaitu hadits yang diceritakan dari Sahabat Wail RA:
ثُمَّ رَفَعَ اصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهاَ يَدْعُوْ --رواه أحمد

”..... Kemudian beliau mengangkat jarinya sehingga aku melihatnya beliau menggerak-gerakkanya sambil membaca doa.” (HR: Ahmad).

Sedangkan hadits yang diriwayatk dari Ibn Zubair RA:
 أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كاَنَ يَشِيْرُ بِإِصْبِعِهِ إِذَاَ دَعَا لاَ يُحَرِّكُهَا --رواه أبو داود والنسائي

“Bahwa Nabi SAW memberi isyarat (menunjuk) dengan jarinya jika dia berdoa dan tidak menggerakkannya. (HR Abu Daud dan Al Nasai)

Dari Hadits tersebut Imam Mazhab fiqh sepakat bahwa meletakkan dua tangan di atas kedua lutut pada saat tasyahhud hukumnya adalah sunnah. Namun juga para imam mazhab berbeda pendapat dalam hal menggenggam jari-jari dan berisyarat dengan jari telunjuk (Alawi Abbas al Maliki, Ibanahtul Ahkam, Syarh Bulughul Maram, Indonesia: al Haramain, Juz 1, h. 435-437. Dan lihat pula Al Juzayri, Kitab al-Fiqh ‘Ala Madzahibil Arba’ah, Beirut: Darul Fikr, 1424 H. Juz 1, h. 227-228).

1. Menurut ulama mazhab Hanafi, mengangkat jari telunjuk dilakukan pada saat membaca lafadz “Laa Ilaaha”, kemudian meletakkannya kembali pada saat membaca lafadz “illallah” untuk menunjukan bahwa mengakat jari telunjuk itu menegaskan tidak ada Tuhan dan meletakkan jari telunjuk itu menetapkan ke-Esa-an Allah. Artinya, mengangkat jari artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah dan meletakkan jari telunjuk untuk menetapkan ke-Esa-an Allah.

2. Menurut ulama mazhab Maliki, pada saat Tasyahhud tangan kanan semua jari digenggam kecuali jari telunjuk dan ibu jari di bawahnya lepas. kemudian menggerak-gerakkan secara seimbang jari telunjuk ke kanan dan ke kiri

3. Menurut ulama mazhab Syafi’i, mengenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah. Kemudian memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk sekali saja saat kalimat “illallah” (الا الله) diucapkan:

4.Menurut mazhab Hambali, mengenggam jari kelingking, jari manis dan jari tengah dengan ibu jari. kemudian memberi isyarat (menunjuk) dengan jari telunjuk saat kalimat “Allah” ( الله) diucapkan ketika  tasyahhud dan doa

5. Pendapat Syeikh Al-Albani. (Lihat kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140). bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz Tasyahhud.
Imam al-Baihaqi menyatakan:
وَقَالَ البَيْهَقِيْ: يَحْتملُ  أَنْ يَكُوْنَ مُرَادُهُ بِالتَحْرِيْكِ الإِشَارَةُ حَتَّى لاَيُعَارِضَ حَدِيْثَ ابْنِ الزُبَيْر

Kemungkinan maksud hadits yang menyatakan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan saat tasyahhud adalah isyarat (menunjuk), bukan mengulang-ulang gerakkannya, agar tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Zubair yang menyatakan tidak digerakkannya jari telunjuk tersebut. Hikmah memberi isyarah dengan satu jari telunjuk ialah untuk menunjukkan ke-Esa-an Allah dan karena jari telunjuk yang menyambung ke hati sehingga lebih mendatangkan kekhusyu’an.

Senin, 19 Maret 2012

Cara terbaik yg harus dilakukan ketika ada orang sekarat.

Fiqh Islam memberikan tuntunan terkait tindakan yang dilakukan terhadap orang yang sakit keras / sekarat ( muhtadlir ). Apabila nampak tanda-tanda ajalnya sudah tiba, maka tindakan yang sunah dilakukan oleh orang yang sedang menungguinya adalah: 1. Membaringkan muhtadlir pada lambung sebelah kanan untuk menghadapkannya ke arah kiblat. Jika tidak memungkinkan,semisal disebabkan tempatnya terlalu sempit atau ada semacam gangguan pada lambung kanannya, maka ia dibaringkan pada lambung sebelah kiri. Dan jika masih tidak memungkinkan, maka ditidur lentangkan menghadap kiblat dengan memberi ganjalan di bawah kepala agar wajahnya bisa lurus menghadap ke arah tersebut. 2. Membaca surat Yasin dengan agak keras dan al-Ro’du dengan suara yang pelan. Faidah pembacaan Surat ini – kata al-Qulyubi, adalah mempermudah keluarnya ruh, disamping ada sebuah hadits yang menjelaskan,bahwa ia akan mati, masuk dan bangkit dari alam kubur dalam keadaan segar bugar. Dalam Nihayah Az-Zain, Syaikh Nawawi Banten menambahkan, jika tidak mungkin membaca keduanya, maka surat yang dibaca disesuaikan dengan keadaan muhtadlir . Yakni apabila masih ada kesadaran dalam diri muhtadlir , maka surat Yasin-lah yang dibaca. Dan jika sudah tidakada, maka yang dibaca adalah surat al-Ro’du karena surat ini berfaedah mempermudah keluarnya ruh. 3. Men- talqin dengan kalimat Tahlil secara santun (lembut) tidak menampakkan kesan memaksa. Semisal, mulaqqin (orang yang mentalqin) mengingatkan disampingnya dengan ucapan: “ dzikir kepada Alloh itu amat diberkahi” , atau mengajak hadirin dzikir bersama. Dalam talqinnya, Mulaqqin tidak perlu menambahkan lafadz Asyhadu kecuali muhtadlir bukan seorang mukmin dan ada harapan ia masuk Islam, maka talqinnya disamping harus mencantumkan lafadz tersebut juga harus disempurnakan menjadi dua kalimat syahadat agar ia meninggal dalam keadaanIslam. Talqin ini tidak usah diulang kembali jika muhtadlir telah mampu mengucapkannya, selamaia tidak berbicara lagi – dan menurut Ulama’ Jumhur, walaupun mengenai hal-hal yang berkenaan dengan akhirat. Karena tujuan talqin ini, agar kalimat Tahlil menjadi penutup kalimat yang terucap dari mulutnya. Rosululloh bersabda : مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah “Laa ilaahaillallâh”, maka dia masuk sorga. 4. Sunah memberi minum, lebih-lebih jika nampak gejala ia menginginkannya. Karena dalam kondisi seperti itu, syeitan bisa saja menawarkan minuman yang akan ditukar dengan keimanannya. Sesaat Setelah Ajal Tiba Setelah muhtadhir telah melalui kematiannya, seperti adanya tanda-tanda mengendornya telapak tangan dan kaki, cekungnya pelipis dan hidung yang tampak lemas, tindakan berikutnya yang sunah dilalukan adalah: ¤¤1. Memejamkan kedua matanya seraya membaca: بِاسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم اللَّهُمَّ يَسِّرْ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَسَهِّلْ عَلَيْهِ مَا بَعْدَهُ وَأَسْعِدْهُ بِلِقَائِك وَاجْعَلْمَا خَرَجَ إلَيْهِ خَيْرًا مِمَّا خَرَجَ مِنْهُ الّلهُم اغْفِرلَهُ وَارْحَمْهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فىِ المَهْدِيينَ وَاخْلُفْهُ فىِ عَقِبهِ الغَابِرِينَ وَاغْفِرْلناَ وَلَهُ ياربَّ العَالَمِينَ وَافسَحْ لَهُ فىِ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ Jika sampai terlambat hingga kedua matanya tidak bisa dipejamkan, maka cara memejamkannya dengan menarikkedua lengan serta kedua ibu jari kakinya secara bersamaan, niscaya kedua mata tersebut akan terpejam dengan sendirinya.

Hukum masturbasi,onani dan a'zl

Hukum ONANI/ MASTURBASI Dalam istilah fiqh onani/ masturbasi disebut ISTIMNAA’ yang berarti merangsang keluarnya sperma di luar senggama baik dengan media haram seperti memakai tangan sendiri, bantal, dildo, bolpoint, spidol, botol dan lain-lain atau bahkan hanya dengan fantasi-fa ntasi yang sengaja di ciptakan sendiri seperti lagi mbayangin Nikita willy, Willy Dozan dan willy-will y yang lain … Hehe, atau dgn memakai rangsangan alat yang di halalkan seperti memakaitangan istri sendiri (al-Mahall a biattsar IX/223) Onani yang dilakukan dengan motif ISTID’A’IS SYAHWAH (melampias kan gejolak birahi) jelas diharamkan sebab tindakan ini telah melampaui batas-bata s seks yang dilegalkan (QS. Al-Mu’minu un 5-7) Sedang Onani yang dilakukan dengan motif TASKIINIS SYAHWAH (meredam gejolak nafsu) ulama berbeda pendapat, menurut satu versi diperboleh kan bila dilakukan sebagai alternatif menghidari dosa yang lebih besaryakni khawatir zina. Menurut Imam Ahmad bagaimanapun onani hukumnya haram karena kekhawatir an zina masih bisa diredam dengan berpuasa atau lewat mimpi indah(bila sudah full tang akan mbludhak sendiri), sedang menurut Ibnu ‘Abidin dari madzhab Hanafiyyah Istimna’ wajib dilakukan bila memang menjadi satu-satun ya solusi membebaska n diri dari perzinahan Versi yang melegalkan istimna’ dalam kondisi kepepet di atas masing-mas ing mensyaratk an : • Tidak memiliki lahan syah untukmelampiask an birahi • Kondisi birahinya bergejolak • Dilakukan semata-mat a demi meredam bukan meluapkan gejolak birahi, dan khusus point yang ketiga ini di butuhkan kejujuran hati seseorang sebagaibukti kesalehan tindakanny a (Muhammad Bin Muhammad al-Khodimy -Bariqoh Mahmudiyya h fii Syarh Thoriqoh Muhammadiy yah wa syar’iyyah nabawiyyah ) Efek Negatif Onani • Efek Fisik Tubuhnya kurus, betisnya lemah dan kendor, kedua matanya cekung dan biru, aura wajahnya pucat, tangannya lemah, badannya gemetar bila di ajukanpertanyaan , dan menyebabka n organ seksnya lemah • Efek Psikis Onani yang menjadi kebiasaan akan mengakibat kan seseorang cenderung berpemikir an rendah,berwatak dan bernaluri keras, dungucerob oh, emosional dan suka marah-mara h hanya karena masalah sepele, tidak memiliki prinsip teguh dan suka menyendiri (Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawy , Hikmah at-Tasyri’ wal falsafatuh u II/ 290-291) Hukum 'Azl 'Azl atau Senggama Terputus (Coitus Interuptus ) Dalam literatur Fiqh istilah 'Azl diartikan sebagai tindakan suami mencabut penis dalam bersenggam a ketika mendekati ejakulasi dan mengeluark an sperma diluar rahim agar tidak terjadi pembuahan, secara hukum setidaknya ada empat pandangan berbeda mensikapi masalah Azl ini : 1. Boleh Secara Mutlak Pendapat ini dilansir oleh kalangan Syafi'iyya h dengan berdasarka n hadits Shahih yangdiriwayatk an dari Jabir Ra وَعَنْ جَابِرٍ – رضي الله عنه – قَالَ : – كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَالْقُرْآ نُ يَنْزِلُ, وَلَوْ كَانَ شَيْئًا يُنْهَى عَنْهُ لَنَهَانَا عَنْهُ اَلْقُرْآن ُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ (1) . وَلِمُسْلِ مٍ : – فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ يَنْهَنَا – (2) . 1. "Kami melakukan Azl dimasa Rasululloh SAW sementara Alquran turun, jika saja hal itu larangan niscaya alQuran akan melarang kami melakukann ya" (Mutafaq 'Alaih/ Sunan Ibnu Maajah Vol 1 Hal 620) 2. “Kami melakukan `azl pada masa Nabi SAW. Kabar tersebut sampai kepada beliau, tetapi beliau tidak melarangny a”. (HR Muslim) Akan tetapi menurut An-Nawawy(Ulama' Syafiiyyah ) dalam Syarh Muslim menegaskan apabila Azl dilakukan demi menghindar i kehamilan hukumnya makruh secara mutlak baik ada kerelaanpihak istri atau tidak karena tindakan Azl dianggap memutus keturunan. 2. Makruh apabila ada HAJAT Statement ini dipegang oleh kalangan Hanabilah dengan dasarbeberapa hadits yang diriwayatk an oleh Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Umair dan Ibnu Umair yang membenci Azl karena dapat mengurangi jumlah keturunan yang dianjurkan syara' Sabda Nabi saw "Menikahla h kalian dan memperbany ak keturunan" 3. Boleh apabila ada kerelaan Istri Pendapat ini Statemen dari Imamahmad berdasarka n sebuah Hadits dari Umair yang diriwayatk an Ibnu Majah هَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعْزَلَ عَنْ الْحُرَّةِ إِلَّا بِإِذْنِهَ ا. Dari ‘Umar ibn al-Khattab berkata: "Nabi melarang perbuatan `azl terhadap wanita merdeka kecuali seizinnya” . (HR Ibnu Maajah Vol 1 Hal 620) Perlunya kerelaan dari pihak istriini dikarenaka n istri memiliki Hakatas anak sehingga dengan tindakan Azl akan menghilang kan haknya namun apabila istri memberikan memberikan izin hukumnya tidak makruh. 4. Haram Pendapat ini dilansir oleh kalangan Dhohiriyya h dengan tendensi hadits yang diriwayatk an dari Judzamah Ra أن الصحابة سألوا رسول الله عن العزل فقال : ذلك الوأد الخفي "Sesungguh nya para shahabat bertanya tentang Azl, Nabi menjawab hal itu adalah pembunuhan anak dengan samar" (HR. Muslim)

Wig Pengganti Jilbab, Bolehkah ?

Sebut saja asifah, seorang mahasiswi sebuah universitas di Turki. Sebgai seorang muslimah, Asifah selalu mengenakan jilbab /kerudung sebgai hijab aurotnya. Namun, karena larangan mengenakan hijab di dalam kampus, akhirnya dia memilih jalan alternatif yakni dengan memakai wig (rambut palsu) sebgai pengganti jilbab / kerudung. (Abdulloh) Pertanyaan Bolehkan memakai wig (rambut palsu) dengan alasan trsebut ? Jawaban Pada dasarnya Aurat adalah anggota tubuh yang wajib ditutupi dari pandangan orang lain. Aurat wanita adalah seluruhtubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Ketentuan bagian tubuh yang menjadi aurat ini, selain karena ada ketentuan syara’, juga dimaksudkan untuk kemaslahatan diri si wanita dan juga orang lain, terutama lawan jenis, agar tidak terjerumus dalam perbuatan zina yang bermula dari pandangan pada anggota tubuh. Karenanya, di luar shalat, aurat wanita menurut mayoritas ulama’ adalah seluruh tubuh. Ini karena dengan menyisakan wajah dan telapak tangan yang tidak ditutupi, belum cukup mengantisipasi dampak negatif dari potensi fitnah yang dikandungnya.

           Fitnah yang dimaksud di sini adalah ketertarikan yang berujung pada perbuatan zina atau pendahuluan zina, yang bermula dari pandang mata lelaki pada wajahnya, misalnya. Nah, jika tujuan jilbab adalah semacam ini, maka selain menutup seluruh tubuh (menurut versi mayoritas), atau menyisakan wajah dan telapak tangan (menurut versi yang lain), maka harus pula diperhatikan, bahwa pakaian penutup janganlah pakaian yang menampakkan lekuk tubuh wanita.
          Bagaimana dengan wig?
Permasalahannya adalah,
 >>*. Apakah wig bisa menutup anggota tubuh yang merupakan aurat (kepala, rambut, telinga, leher) secara sempurna?
 >>*. Apakah wig bisa menutup lekuktubuh di bagian dada?
>>*. Dengan wig yang mengesankanrambut asli pada pemandangnya, bukankah tidakmungkin, malah akan menimbulkan ketertarikan yanglebih?
 Nah, memandang pertimbangan ini, wig kiranya belum cukup sebagai pengganti jilbab. Wallahu a’lam.

Referensi ;
*. I’anah al-Thalibin III/258 *. Al-Bajuri II/99 *. Is’ad al-Rafiq II/ 136 *. Fatawi Kubra I/203 *. Tarsyih al-Mustafidin 296-297 *. Tafsir Ayat al-Ahkam li al-Shabuni II/114 إعانة الطالبين الجزء الثالث ص 258 (مهمة) يحرم على الرجل ولو شيخا هما تعمد نظر شئ من بدن أجنبية حرة أو أمة بلغت حدا تشتهى فيه ولو شوهاء أو عجوزا وعكسه، خلافا للحاوي كالرافعي وإن نظر بغير شهوة أو مع أمن الفتنة على المعتمد (قوله: ولو شيخا هما) غاية في حرمة نظر الرجل، والهم، بكسر الهاء وتشديد الميم، الشيخ الفاني (قوله: تعمد نظر الخ) فاعل يحرم. وخرج به ما إذا حصل النظر اتفاقا فلا يحرم. وقوله شئ من بدن أجنبية: أي ولو الوجه والكفين فيحرم النظر إليهما. ووجه الامامباتفاق المسلمين على منع النساء من الخروج سافرات الوجوه، وبأن النظر مظنة الفتنة ومحرك للشهوة، وقد قال تعالى: (قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم) واللائق بمحاسن الشريعة سد الباب والاعراض عن تفاصيل الاحوال كالخلوة بالاجنبية. قال في فتح الجواد: ولا ينافيه، أي ما حكاه الامام من اتفاق المسلمين على المنع، مانقله القاضي عياض عن العلماء أنه لا يجب على المرأة ستر وجهها في طريقها، وإنما ذلك سنة، وعلى الرجال غض البصر لان منعهن من ذلك ليس لوجوب الستر عليهن، بللان فيه مصلحة عامة بسد باب الفتنة. نعم، الوجه وجوبه عليها إذا علمت نظر أجنبي إليها أخذا من قولهم يلزمها ستر وجهها عن الذمية، ولان في بقاء كشفه إعانة على الحرام. إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص : 136 قال فى الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الاحاديث وينبغى حمله ليوافق قواعدنا على ما اذا تحققت الفتنة اما مجرد خشيتها فانما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر اهـ حاشية الباجوري الجزء الثاني ص 99 (مع هامشه) دار الفكر أحدها نظره ولو كان شيخاهرما عاجزا عن الوطء إلى أجنبية لغير حاجة إلى نظرها فغير جائز. (قوله: إلى أجنبية) أي إلى شيء من امرأة أجنبيةأي غير محرم ولو أمة وشمل ذلك وجهها وكفيها فيحرم النظر إليهما ولو من غير شهوة أو خوف فتنة على الصحيح كما في المنهاج وغيره ووجهه الإمام باتفاق المسلمين على منع النساء من الخروج سافرات الوجوه أيكاشفات الوجوه وبأن النظر محرك للشهوة ومظنة الفتنة وقد قال تعالى قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم واللئق من محاسن الشريعة سد الباب والإعراض عن تفاصيل الأحوال كما قالوه في الخلوة بالأجنبية وقيل لا يحرم لقوله تعالى ولايبدين زينتهن إلا ما ظهرمنها وهو مفسر بالوجه والكفين والمعتمد الأول ولا بأس بتقليد الثاني لا سيما في هذا الزمان الذي كثر فيه خروج النساء في الطرق والأسواق فتاوى كبرى الجزء الأول ص 203 قال حجة الإسلام في الإحياء وقد كان أذن رسول الله صلى الله عليه وسلم للنساء في حضور المساجد والصواب الآن المنع إلا العجائز بل استصوب ذلك في زمنالصحابة رضي الله عنهم حتى قالت عائشة رضي الله عنها وذكر ما مر عنهاوقال فيه أيضا في كتاب الأمر بالمعروف ويجب منع النساء من حضور المساجد للصلاة ومجالسالذكر إذا خيفت الفتنة بهن فهذه أقاويل العلماء في اختلاف الحكم فيها بتغير الزمان . وأهل الأقاويل المذكورة هم جمهور العلماء من المجتهدين والأئمة المتقين والفقهاء الصالحين الذين هم من الممهرين فيجب الأخذ بأقاويلهم ; لأنهم علم الأمة واختيارهم لنا خير من اختيارنا لأنفسنا ومن خالفهم فهو متبع لهواه فإن قيل فما الجواب عن إطلاق أهل المذهب غير من مر فالجواب أن محله حيث لم يريدوا كراهة التحريم ما إذا لم يترتب على خروجهنخشية فتنة وأما إذا ترتبذلك فهو حرام بلا شك كمامر نقله عمن ذكر والمراد بالفتنة الزنا ومقدماته من النظر والخلوة واللمس وغير ذلك . ولذلك أطلقوا الحكم في هذه المسألة بدون ذكر محرم يقترن بالخروج وأماعند اقتران محرم به أو لزومه له فالصواب القطعبالتحريم ولا يتوقف فيذلك فقيه ويتضح الأمر بذكر تلك المحرمات المقترنة بالخروج فمنها أن خروجها متبرجة أي : مظهرة لزينتها منهي عنه بالنص ترشيخ المستفيدين ص 296-297 (مهمة) يحرم على الرجل ولو شيخا هما تعمد نظر شئ من بدن أجنبية حرة أو أمة بلغت حدا تشتهى فيه ولو شوهاء أو عجوزا وعكسه، خلافا للحاوي كالرافعي وإن نظر بغير شهوة أو مع أمن الفتنة على المعتمد (قوله: نظر شئ من بدن أجنبية:إلخ – إلى أن قال – ويحرم نظر فحل وخصي ومجبوب وخنثى بالغ إلى عورة حرة كبيرة أجنبية وهي ما عدا وجهها وكفيها بلا خلاف وكذا وجهها وكفيها عند خوف فتنة إجماعا وكذا عند النظر بشهوة بأن يلتذ به وإن أمن الفتنة قطعا وكذا عند الأمن من الفتنة فيما يظنه من نفسه وبلا شهوة على الصحيح ووجه الامام باتفاق المسلمين على منع النساء أن يخرجن سافرات الوجوه، وبأن النظر مظنة الفتنة ومحرك للشهوة فاللائق بمحاسن الشريعة سد الباب والإعراض عن تفاصيل الأحوال كالخلوةبالأجنبية وبه اندفع القول بأنه عورة فكيف حرم نظره لأنه مع كونه غير عورة نظره مظنة للفتنة أوالشهوة ففطم الناس عنه احتياطا على أن السبكي قال الأقرب إلى صنع الأصحاب أن وجهها وكفيها عورة في النظر ولا ينافي ما حكاه الامام من اتفاق نقل المصنف عن قاضي عياض الإجماع على أنه لا يلزمهافي طريقها ستر وجهها ، وإنما هو سنة، وعلى الرجال غض البصر عنهن لان منعهن من ذلك ليس لوجوب الستر عليهن، بللان فيه مصلحة عامة بسد باب الفتنة. نعم، الوجه وجوبه عليها إذا علمت نظر أجنبي إليها أخذا من قوله يلزمها ستروجهها عن الذمية، ولان فيبقاء كشفه إعانة على الحرام. والثاني أي مقابل الصحيح لا يحرم ونسبه الإمام للجمهور والشيخانللأكثرين – إلى أن قال- فالجزم يمنع خروجهن فيهحرج شديد فالحق جواز خروجهن سافرات الوجوه مع وجوب الغض على الرجال ويشترط مع ذلك أمن الفتنة وترك الزينة فإن وجد أحد هذين منعت من الخروج إهـ. تفسير ايات الاحكام للصابوني الجز 2 ص : 114 اقول : الأئمة الذين قالوابان (الوجه والكفين ) ليسا بعورة اشترطوا بأنيكون عليها شيئ من الزنية وان لايكون هناك فتنة أما ما يضعه النساءفى زمننا من الاصباغ والمساحق على وجوههن واكفهن بقصدالتجميل ويظهرن به امام الرجال فىالطرقات فلاشك فى تحريمه عند جميع الائمة ثم ان قول بعضهم ان الوجه والكفين ليسا بعورة ليس معناه أنه يجب كشفها او أنه سنة وسترهما بدعة فان ذلك مالا يقول به مسلم وانمامعناه أنه لا خرج فى كشفهما عند الضرورة وبشرط أمن الفتنة

Minggu, 18 Maret 2012

Permintaan istri dikala ngidam dan hukum jual beli tokek

 
 
Permintaan Istri di Kala Ngidam

    Kehamilan merupakan momen penting yang sangat dinantikan oleh banyak orang tak terkecuali bagi Martono dan Martini, pasangan pengantin yang baru berumur beberapa bulan. Semenjak hadirnya sang calon buah hati, kebahagiaan mereka terasa lebih lengkap. Danseperti umumnya perempuan yang lagi hamil muda, Martinipun mengalami fenomena ngidam, tingkah dan permintaan Martini sudah di luar kebiasaan. Kalau yang diinginkan tersebut gampang didapat, dengan senang hati Martono memenuhi permintaannya. Namun, terkadang Martono dibikin kewalahan oleh tingkah Martini yang sangat menginginkan hal yang cenderung tidak masuk akal, belum waktunya musim duren Martini ngidam duren. Bahkan Martono merasa tertekan ketika Martini tidak mau didekati. Entah, apakah hal ini disebabkan adanya faktor situasi (psikis) yang menyertai Martini atau ini justru dijadikan kesempatan bagi Martini untuk melancarkan aksi mencari perhatian Martono.
     Pertanyaan
1. Apakah sikap Martini dapat dibenarkan menurut perspektif fiqih?
    
     Jawaban 
Untuk ngidam (meminta sesuatu)dibenarkan jika yang diminta merupakan hal yang biasa dibutuhkan oleh wanita yang ngidam.
Sedangkan sikap menolak didekati bisa dibenarkan jika adaudzur, seperti bau badan suami yang menyebabkan istri merasa tertekan dalam batas tidak mampu ditahan menurut kebiasaan umum.
Begitu juga dibenarkan bila menolak didekati tersebut murni timbul karena ngidam namun untuk faktor ini menggugurkan nafaqah.
Catatan :
Hukum di atas jika tidak ada tanda-tanda sang istri bohong.
Referensi
1. Hasyiyah al-Bujairamy ‘ala-al-Khothib, vol. 4, hlm. 89
2. At-Tahdzib, vol. 4, hlm. 454
3. Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 215
4. Mukhtar as-Sihah, hlm. 291
حاشية البجيرمي علىالخطيب الجزء الرابع صحـ:89
تنبيه : ينبغي أن يجب ما تطلبه المرأة عند ما يسمى بالوحم من نحو ما يسمى بالملوحة إذا اعتيد ذلك وأنه حيث وجبت الفاكهة والقهوة ونحو ما يطلب عند الوحم , يكون على وجه التمليك فلو فوته استقر لها ولها المطالبة به ولو اعتادت نحو الأفيون بحيث تخشى بتركه محذورا من تلف نفس ونحوه لم يلزم الزوج لأن هذا من باب التداوي ا هـ م ر سم .
التهذيب في فقه الإمام الشافعي الجزء الرابع صحـ: 454
فنشوز الزوجة كخروجها من البيت بغير إذنه لا إلى قاض يطلب الحق منه -إلى أن قال- وكمنعها له من الاستمتاعبها ولو بغير جماع كقبلة حيث لا عذر في إمتناعها منها فان عذرت كأن كان به صنان او بخر مستحكاموتأذت به تأذيا لا يحتمل عادة لم تعد ناشزة وتصدق في ذلك إن لم تدل قرينة على كذبها. وسئل العلامة ابن حجر عما إذا امتنعت الزوجة من تمكين الزوج لتشعثه وكثرة أوساخه هل تكون نازيزة ام لا ؟ فأجاب لا تكون ناشيزة بذالك ومثله كل ما تجبر المرأة على إزالته أخذا بما في” البيان” أن كل ما يتأذى به إنسان يجب على الزوج إزالته
بغية المسترشدين صحـ:215
(مسألة) مزوجة إذا دخلتعلى زوجها اعتراها ضيق وكرب وصياح وإذا خرجت من بيته سكن روعها لم يلزمها التسليم للضرر لكن تسقط مؤنها ولا يلزم الزوج الخروج من بيته لأخر.
مختار الصحاح ص291
وحم (الوحام) بفتح الواو وكسرها شهوة (الحبلى) خاصة وقد (وحمت) بالكسر توحم (وحما) بفتحتين وهي امرأة (وحمى) ونسوة (وحامى)وفي المثل وحمى و لا حبل وقد (وحمها توحيما)أطعمها ما تشتهيه.
1. Apakah permintaan istri ketika hamil harus dipenuhi?
Jawaban
Permintaan istri ketika hamil ( wahm ) Wajib dipenuhi jika hal itumerupakan hal yang biasa dibutuhkan oleh wanita yang sedang ngidam ( wahm ), namun menurut Sayyid Umar dan SyekhIbnu Siroj tidak wajib .
Referensi
1. Hasyiyah Syarwani, vol. 8,hlm. 309
2. Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 242
حاشية شرواني الجزء الثامن صحـ: 309
( تنبيه ) ينبغي أن يجب نحو القهوة إذا اعتيدت ونحو ما تطلبه المرأة عندما يسمى بالوحم مننحو ما يسمى بالملوحة إذا اعتيد ذلك وأنه حيث وجبت الفاكهة والقهوة ونحو ما يطلب عند الوحم يكون على وجه التمليك فلو فوته استقر لها ولها المطالبة به ولو اعتادت نحو اللبن والبرش بحيث يخشى بتركه محذورا من تلف نفس ونحوه لم يلزم الزوج لأن هذا من باب التداوي فليتأمل م ر اهـ سم على حج (أقول) الأقرب أن القهوة وما عطف عليها لا يجب لأنه من حيز التداوي وأي فرق بينه وبين البرش لأنكلا منهما يتضرر بتركه وليس له دخل في التغذيةبخلاف الفواكه ا هـ سيد عمر لكن أقر ع ش ما في التنبيه عن م ر بتمامه وزاد شيخنا والحلبي والحفني عليه وجوب الدخان المشهور إن اعتادته ا هـ
بغية المسترشدين صحـ:242
فائدة قال محمد بن سراج ولا تجب القهوة على الزوج مطلقاً وإن اعتادوها لكن نقل (ع ش)عن (م ر) وجوبها ونحوها من الفواكه المعتادة لأمثالها قال ويؤخذ منه وجوب ما يعتاد من الكعك في عيد الفطر واللحم في عيد الأضحى ولا يجب عمله عندها إلا إن اعتيد ذلك
HUKUM JUAL BELI TOKEK
Pertanyaan : 
Bagaimana hukum jual beli tokek? 
Jawaban :
Hukum jual beli tokek tidak diperbolehkan menurut madzhab Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah, sedangkan menurut madzhab Malikiyyah diperbolehkan dan sah.
Referensi :
الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء الثاني والأربعون صحـ 316- 317
الْهَوَامُّ لُغَةً جَمْعُ هَامَّةٍ مِثْل دَابَّةٍ وَدَوَابَّ وَهِيَ تُطْلَقُ عَلَى كُل حَيَوَانٍ لَهُ سُمٌّ يَقْتُل كَالْحَيَّةِ قَالَهُ الأَزْهَرِيُّ وَفِي الْحَدِيثِ اجْتَنِبُوا هَوْمَ الأَرْضِ فَإِنَّهَا مَأْوَى الْهَوَامِّ وَقَدْ يُطْلَقُ عَلَى مَا لاَ يَقْتُل كَالْحَشَرَاتِ وَفِي الأَْثَرِ النَّبَوِيِّ أَيُؤْذِيكَ هَوَامُّ رَأْسِكَ ؟ يَعْنِي الْقَمْل وَالْمُرَادُ هُنَامَا يَشْمَل الْمُؤْذِيَ وَغَيْرَهُ مِمَّا لاَ يَنْتَفِعُ بِهِ وَالْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيُّ لاَيَخْرُجُ عَنِ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ -إلى أن قال- بَيْعُ الْهَوَامِّ لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي الْجُمْلَةِفِي أَنَّهُ لاَ يَنْعَقِدُ بَيْعُ هَوَامِّ الأَرْضِ الَّتِي لاَ مَنْفَعَةَ فِيهَا أَصْلاً وَاخْتَلَفُوا فِي بَعْضِ التَّفَاصِيل فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَنْعَقِدُ بَيْعُ الْهَوَامِّ شَرْعًا كَالْوَزَغَةِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَالْقُنْفُذِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ سَائِرِ هَوَامِّ الأَرْضِ الَّتِي لاَ مَنْفَعَةَ فِيهَا لِأَنَّهَا مُحَرَّمَةُ الاِنْتِفَاعِ بِهَا شَرْعًا لِكَوْنِهَا مِنَ الْخَبَائِثِ فَلَمْ تَكُنْ مَالاً فَلَمْ يَجُزْ بَيْعُهَا ؛ لِأَنَّ بَيْعَهَا يَكُونُ مِنْ جُمْلَةِ أَكْل أَمْوَال النَّاسِ بِالْبَاطِل وَاللهُ جَلَّ شَأْنُهُ يَقُولُ “لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِل” وَفِيهِ إِضَاعَةٌ لِلْمَال فَلَمْ يَجُزْ وَلِأَنَّهُ لاَ مَنْفَعَةَ فِيهَا أَصْلاً فَلَمْ يَنْعَقِدْ وَلاَ عِبْرَةَ بِمَا يُذْكَرُ مِنْ مَنَافِعِهَا فِي الْخَوَاصِّ وَأَمَّا الْمَالِكِيَّةُ فَالْهَوَامُّ عِنْدَهُمْ طَاهِرَةٌ وَيَجُوزُ عِنْدَهُمْ بَيْعُ الطَّاهِرِ إِذَا كَانَ مُنْتَفَعًا بِهِ